Serasa ditempeleng [keras], 2 tumbs up deh ^^

http://beningtirta.tumblr.com/post/108410800671/kamu-kira-kampusmu-world-class-university

Frase kampus World Class University (WCU) sudah beberapa kali dijadikan jualan (atau dagelan?) para pemimpin universitas dan atau tim marketing beliau-beliau itu. Tapi, apakah kita sudah benar-benar paham dengan istilah maut ini?

Menurut bahasa, WCU berarti universitas kelas dunia. Kelas dunia … maksudnya bisa bersaing di garis terdepan bersama universitas kelas dunia semacam Oxford, Harvard, Berkeley, Delft, Tokyo daigaku, HKUST, dsb. “Kelas dunia” disini adalah pengejawantahan dari pemeringkatan yang dibuat oleh beberapa agensi dan universitas.

Lalu bagaimana dengan kampus/perguruan tinggi (PT) di Indonesia? Jika berpatok pada kemutakhiran kampus-kampus “kelas dunia”, maka perguruan-perguruan tinggi di Indonesia seperti anak SMP yang baru belajar persamaan kuadrat, sedangkan kampus-kampus WCU sudah belajar Kalkulus dan Aljabar Multivariabel.

Kabar baiknya adalah tidak setiap “anak” harus belajar Kalkulus. Bisa saja setelah SMP si anak masuk SMEA atau pindah ke Australia ambil sekolah chef. Mungkin PT di Indonesia tidak perlu jadi WCU. Yang terpenting sekarang, si anak SMP ini perlu mencari tahu bakat dan minatnya.

*Kampus kelas dunia adalah pemeringkatan dari sekelumit parameter yang telah ditentukan “panitia”. Maka dari itu seseorang tidak bisa asal mengklaim bahwa kampusnya WCU. Ini salah satu set parameter yang digunakan THE World University Rankings:

  • Teaching: the learning environment (worth 30 per cent of the overall ranking score)
  • Research: volume, income and reputation (worth 30 per cent)
  • Citations: research influence (worth 30 per cent)
  • Industry income: innovation (worth 2.5 per cent)
  • International outlook: staff, students and research (worth 7.5 per cent)

Mari kulik kesalahpahaman soal WCU

Pertama, soal tenaga pengajar. Dalam sebuah WCU, ada banyak profesor (guru besar) di satu departemen/jurusan. Bagaimana dengan di Indonesia? Jangan muluk dulu deh. Berapa persen dosen di jurusanmu yang sudah bergelar doktor? Di antara para doktor itu, berapa yang rutin riset dan menulis buku. Siapa yang sudah punya “branding” ekspertis? Misalnya, Bapak A itu ahli bioremediasi, Ibu B ahlinya kantung semar dunia, Ibu C filologis ternama yang sering diundang ke Belanda, dan sebagainya. Ketika seseorang tidak dikenal di bidangnya, yang bersangkutan belum berbuat sesuatu yang signifikan.

Kedua, kompetisi di antara mahasiswa. Dari cerita teman saya yang pernah short course bersama anak-anak Harvard dan kampus top lainnya, doi shock melihat kompetisi antarmahasiswa dalan tugas, kecepatan daya serap ilmu baru, dan keaktifan di kelas. Sekarang lihat di sekitarmu. Berapa kepala yang pelajarin buku teks sebelum datang ke kelas? Berapa orang yang niat banget kalau udah soal bikin paper? Berapa orang yang aktif berdiskusi di kelas? Jangan ngaku-ngaku kampus kelas dunia kalau kuliah masih satu arah, mayoritas cengok di kelas, dan bikin tugas sekadarnya.

Kita tidak juga bisa mengharapkan ada diskusi di kelas ketika dosen baca buku teks tapi mahasiswa cuma ngafalin slide. Ga apple to apple dong isi kepala dosen dan mahasiswanya. Mungkin ini juga yang bikin diskusi jarang terjadi.

Ketiga, fasilitas riset masih amburugul. Buat anak sains dan teknik pasti paham bagaimana kesulitan kalau udah soal instrumentasi dan pengukuran yang “mahal”. Fasilitas satu lab seorang sensei di kampus top di Jepang bisa lebih lengkap dan canggih dari satu fakultas (bahkan sekampus) di PT Indonesia. Mari salahkan minimnya investasi negara buat riset, yaitu masih 0.09% dari GDP, saat negara lain sudah 0,5-1,0%. Makanya guys, banyak baiknya kalau mau belajar sains dan teknik di tingkat magister dan doktor di luar negeri, di WCU.

Keempat, “Kampus gua kelas dunia, tuh lihat … banyak bulenya.” Jumlah mahasiswa luar negeri yang exchange ke sebuah kampus cukup bisa jadi acuan bagaimana International awareness and acknowledgement sebuah kampus dan bagus-tidaknya jejaring para dosennya. Tapi, pernah nanya ga, apa alasan tuh bule belajar di kampusmu? Karena fasilitas kampusmu? Karena tidak ada opsi lain? Atau karena pengen jalan-jalan? :D

Kelima, “Kampus gua kampus kelas dunia, karena banyak dosen luar negeri bikin seminar di sini.” Hallo … pada banyak kasus, kuliah tamu adalah karena undangan penyelenggara, dimana seluruh pengeluaran ditanggung. Siapa sih yang ga mau jalan-jalan gratis ke Indonesia dengan cukup ngasih kuliah 1-2 jam? Lo baru bisa bangga kalau dosen-dosen kampus lo yang sering diundang ke luar negeri. Diundang karena dibutuhkan, mengundang karena membutuhkan.

Keenam, kesenjangan keilmuan dosen dan mahasiwa. Tadi sudah sedikit dibahas bahwa dosen dan mahasiswa di Indonesia, pada umumnya, bacaanya ga sama. Satunya handout dan wikipedia, satu lagi buku teks dan jurnal/sirkular edisi teranyar. Budaya keilmuan yang egaliter sepertinya masih jauh. Mungkin ada beberapa outlier, teman-teman kita, yang sudah bisa berdiskusi dengan dosen di sesi-sesi ngopi santai. Namun, pada banyak kasus pasti mahasiswa menghindari dosen. Pas bimbingan skipsi contohnya, berapa sih yang bisa rigorously argue idenya sama si dosen. Ini apakah karena dosennya yang pinter banget, mahasiswanya yang mengalami inferiority complex, atau emang si mahasiswa ga punya “amunisi”.

Bayangin deh, ketika kita, generasi muda, para mahasiswa, sudah cukup baca dan bisa melihat isu-isu mana yang strategis, perlu, dan menarik dibincangkan, kita bisa banget ngopi bareng sama dosen di kantin fakultas. Kalau di kampus kelas dunia mah … sudah beberapa kali kejadian mahasiswa dan dosen pembimbing dapat penghargaan Nobel bareng.

Dari uraian di atas, tiap dari kita sadar bahwa kampus-kampus di dalam negeri masih jauh dari apa yang disebut kelas dunia. Mungkin satu-dua dosen sudah dapat pengakuan International, tapi itu tidak otomatis membuat satu kampus menjadi kelas dunia. Ketika kita bicara soal pemeringkatan, maka panitia menilai keseluruhan performa. Jika investasi untuk keseluruhan elemen kampus (infrastruktur, pendidikan pengajar, akses jurnal, budaya keilmuan, dan seterusnya) dirasa begitu mahal, maka tiap pemimpin kampus (dan juga kementerian terkait) perlu memperhatikan elemen mana yang ingin dikuatkan. Apakah kampus Anda ingin menjadi kampus yang baik pengajar(an)nya, yang tinggi employment rate-nya, yang oke risetnya, atau yang menelurkan para pemikir dan pebisnis andal? Yang terpenting adalah si anak SMP segera mulai mengenal dirinya, kekuatan dan kebutuhannya.

Kampus-kampus di Indonesia mungkin belum cukup lama berjalan untuk menelurkan pemikir-pemikir besar, punya sistem ajar yang bernas, dan menjadi “kebanggaan” dunia. Bisa jadi karena PT di Indonesia belum punya peta yang jelas, atau masih terbawa bayang-bayang penjajahan dan revolusi industri. Ini wewenang pemangku kekuasaan soal kemana arah PT dibawa.

PR buat mahasiswa dan eks-mahasiswa

Menurut saya pribadi, budaya baca belum jadi sesuatu yang seksi di teman seumuran kita. Kita semacam tidak punya waktu untuk membaca buku-buku “wajib” untuk memulai perjalanan menjadi ahli di suatu bidang. Kita bisa saja menyalahkan bagaimana kampus telah menyempitkan definisi sebuah pendidikan menjadi “tips menyelesaikan soal ujian”. Bagaimanapun, pada sistem yang jauh dari ideal, sekadar menuntut adalah kesia-siaan.

Satu kelemahan yang saya rasakan pribadi adalah lemahnya kemampuan self-study atau independent study saya. Apakah karena ini tidak diajarkan sedari ospek? Padahal untuk menjadi pribadi yang merdeka, kita harus jadi pembelajar yang merdeka. Pembelajar yang merdeka adalah mereka yang bisa mendayagunakan resource di sekitarnya dalam prosesnya menjadi ahli di satu bidang (expert) atau di banyak bidang (polymath).

Coba bayangkan, setelah lulus sarjana, apakah kamu bisa menjadi seorang “sarjana” bidang lain tanpa harus masuk kampus lagi?

Saya hanya berpikir bahwa status sarjana, master, dan doktor adalah sebuah level keilmuan dimana kita sudak cukup pintar untuk bikin skripsi di bidang yang lain, tesis di bidang yang lain, dan desertasi di bidang yang lain—respectively. Sarjana, di mata saya, adalah satu set study skill, bukan sekadar selembar ijazah. Apakah kamu sepaham denganku?

Akhir kata, buat yang sudah bekerja, jangan lupa membaca ya! Katanya sih, rutinitas bikin bego. Status mahasiswa mungkin usai di usia 21-22 tahun. Tapi, yang terpenting kita tidak berhenti menjadi seorang pembelajar. #yeah

Full of pressure

Profesor saya baik banget deh, tau kali yah studentnya pemalas, studi jurnal yang harus saya selesaikan ga tanggung tanggung, membuat saya harus bolak balik MSC sampai berkali kali, gak akan pulang sebelum diusir petugas perpus, berteman sedikit kaffein untuk membuat saya tetap terjaga, jam tidur saya otomatis melenceng jauh, badan yang ga fit sampai sampai gak kerasa demi mengejar deadline awal minggu ini :(

Ini banget deh yang namanya andragogi, merasa proses studi d3 dan d4 saya kayaknya gak gini gini banget, nyante kayak di pantai kata orang. Sekarang bedaaaaa jauuuuh bangettt kalau bisa teh sehari lebih dari 24 jam, setiap hari itu berlalu sangat cepat, tiba tiba udah pagi aja :( ya Allah berat banget menurut saya mah, padahal saya yang biasanya hobi menunda nunda pekerjaan, pemalas, pragmatis, teledor dan sejenisnya harus mencoba mengubah itu semua, memenej waktu saya sebaik mungkin, mencuci otak saya dengan hal hal positif, harus keluar dari zona nyamannya saya, fokus tanpa mengenyampingkan ibadah padaNya

jadikan cobaan rutinitas ini ladang untuk belajar sabar, ladang untuk belajar ikhlas, InshaAllah …untuk itulah saya memaksa diri sesibuk sibuknya saya, pertemuan denganNya haruslah tetap yang utama, pokoknya harus sering muhasabah juga ya Mil :) siapppp!!!!!!

***Sukajadi, 20 March 2015, 10.00 pm

Ngangkot

Sejak di Bandung sudah biasa kemana kemana selalu pakai angkot, sebenarnya pas ibu saya nawarin motor yang di rumah mau dibawa sayanya malah mikir engga usah aja, ribet harus dipaketinnya, mahal, rawan juga kan [efek berita2 begal yang emejing itu], di pondok muslimah kosan saya semua penghuninya sepertinya lebih nyaman pakai angkot aja daripada kendaraan pribadi, lagian gada tempat parkirnya juga da :P

Pagi tadi jam 07.50 sudah duduk manis di L.4, deg degan buat kelas obgyn terkini yang dimuai tepat pukul 08.00, ternyata eh ternyata sekre memberitahukan kuliah ditiadakan, dr. Anita pengampu makulnya sedang ada simposium di Manado, horeeeee berarti saya ga presentasi minggu ini :) duh Allah tahu banget deh saya teh sebenernya belum siap :P

Kuliahnya cuma satu aja hari ini, teruss gimana udah kepalang cantik ini, hehe yah jalan deh akhirnya kita, saya dan teh erly dengan modal tanya tanya kalau mau ke kampus ITB Dago dari eijkman pakai angkot apa yah, taunya caheum ciroyom aja yang ke gasibu, ckckck

nyampe ke ITB nyah? iya nyampe tapi sama si amang2 angkot diturunin di jalan tamansari belakang kampus ITB, yah jalan deh sampai gerbang ganesha, hahaha

pernah ya pas ke DT juga, klo ini sendiri, pulangnya nyasar ke cihampelas, padahal tujannya ke sukajadi :D jalur angkot bandung itu ribet, sepertinya  mulai saat ini harus punya jalur angkot dan pastinya akan saya bawa kemanapun pergi, hehehe

***Sukajadi, 12nd March 2015, 10.24 pm

I’m just dreaming

Bismillahirrohmanirrohim…

Alarm yang saya set pukul 03.00 akhirnya tak sempat berbunyi karena lebih dulu terbangun [rasanya seperti dipaksa bangun :cry: ] saya hanya mimpi ternyata, ga tau kenapa langsung nangis gitu, kali ini saya ga lebay ya, rasanya bener bener nyata yang saya alami di mimpi itu, duh Ya Allah terimakasih sudah membuat saya merasakan moment indah itu walau di dalam mimpi, hehe

apa karena keseringan ngigau ya saya, kurang istirahat juga, begadang terus, ga tau lah … ada banyak assesment yang harus saya selesaikan akhir akhir ini, semalam kalau ga dipaksakan tidur pukul 23.00 mungkin ga tidur tidur kali :D itu pun belum selesai sebenarnya, makanya set alarm pukul 03.00 eh dibangunin sama mimpi yang indah bingiiittt :D Alhamdulillah… [even its just dream :P ]

Bangun bangun serasa sedih ga tau kenapa, Astaghfirullah mila ga boleh terlena ya kata hati saya, langsung keluar ambil wudhu sholat 2 rakaat, alhamdulilah tenang

Sudah ya Mil, lupakan masalah mimpi tadi ya, saatnya berkutat dengan dunia nyata yang super duper keras ini, yakin saja Allah akan mudahkan di setiap urusan, yakin juga kelak di depan sana saya akan temui yang lebih besar :) yang lebih indah dibanding mimpi saya ini, doa saya sama Allah [Aamiin ya Allah]

***Sukajadi, 9th March 2015, 4.10 am

Ya Allah terimakasih sudah percaya Mila

Haghag kadang saya merasa tidak sekuat yang saya bayangkan, hari ini sudah terbayang apa yang akan saya lalui ke depan begitu banyaknya, begitu pelik dan ribet seperti kelihatanya :cry:

takut ga bisa melalui ini dengan baik? tentu, wajar karena belum dilalui kata hati saya, ini hanya godaan syetan yang mencoba menjerumuskan dari setiap sudut kan, ah istighfar Mil, Astaghfirullah…

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)

Allah sudah mempercayakan saya mendapatkan amanah ini karena yakin menurut Allah saya bisa melaluinya dibandingkan yang lain, Allah akan berikan kekuatan pada saya untuk menghadapi apapun itu di depan, InshaaAllah … jadi, stop khawatir pada masa depanmu Mil, sudah ada yang mengatur, rahmatNya begituuu sangatttttt luas untuk diragukan

Bismillah… :)

***Sukajadi, 24th February 2015, 8.45 pm