Share SPN Salman ITB 2nd meeting (Nikah dan Jodoh)

Disarikan dari Konsep Nikah dan Jodoh (by Adriano Rusfi-Bang A’ad) @Gsg Masjid Salman ITB

Bismillahirrohmanirrohiim…

…Wa ja’ala minha zaujaha… Dan Kami jadikan daripadanya pasangannya (Surat Al-A’raf Ayat 189)

  1. Jodoh itu rejeki, pasti adanya, namun jodoh itu harus di jemput dan diperjuangkan. Rejeki tanpa perjuangan hanya akan menjadi potensi di Lauh mahfudz, begitu pula jodoh🙂 Jodoh itu berbasis kecocokan, jodoh itu kualitas bertemu kualitas, jika ingin pasangan terbaik, baikkan diri dulu hingga pantas dipasangkan, bukankan yang terbaik hanya untuk yang terbaik? Sungguh jodoh itu bagaikan kunci dan lubang kuncinya, tak akan Allah pasangkan yang tidak pas😀
  2. Jodoh itu match group, bukan match pair. saling menutupi kelebihan dan kekurangan masing masing, ada kalanya seseorang terjebak oleh kriteria yang dibuatnya sendiri, merasa dirinya punya banyak nilai tawar sehingga mudah menolak dan menampik, sudahlah cantik, mapan, sarjana, merasa sholihah lagi😦 banyak yang tak kunjung mendapatkan jodoh karena panjang syarat yang bersifat keduniawian😦 . Masih terkait point satu, bukankan Allah mewajibkan diri kita untuk meninggikan kualitas diri, tapi ingatlah untuk selalu rendah hati, lawan kecenderungan diri, selalu tanyakan diri sendiri mungkinkah deretan kriteria itu hanya sebagai ekspresi kesombongan belaka? tanyakan diri benarkah saya lebih baik darinya dan dia lebih rendah dari saya? Bagaimana jika di mata Allah dia jau lebih mulia dari yang kita kira?

Sungguh ilmu Allah maha luas dan rahasiaNya maha dalam, sehingga Allah menjodohkan dua hambanya dengan kombinasi yang nyaris tak masuk akal, halnya penyakit dijodohkan dengan obatnya, sangat bertolak belakang bukan? Maka, belum jugakah kita berserah diri pada kehendak Allah?

Sungguh jodoh itu tak sulit, Allah telah memastikan adanya, dan telah melapangkan segala jalan menujunya. Ia mudahkan segala syarat, rukun dan prosedurnya, serta menyingkirkan segala hambatan hukumNya

Menikah, maka segerakan lah🙂

Menikahlah ketika idealisme masih menggelora, anak anak kita berhak lahir ketika orangtuanya masih mempunyai semangat juang tinggi, inilah mungkin faktor kata kata nikahlah sebelum mapan itu muncul, iya benar🙂 cobalah bandingkan jiwa jiwa anak anak yang lahir dari orang tua yang berkecukupan, dan tak kurang fasilitas apapun dengan anak anak yang dari orang tuanyalah belajar bersabar, anak yang dari orangtuanya mereka mengerti bahwa hidup itu adalah perjuangan🙂 sweet isn’t it

Bagaimana dengan cinta? betapa sulitnya menikah ketika cinta menjadi syaratnya. Cinta itu milik hati, sedangkan hati milik Allah. Lalu, bagaimana caranya bisa mengambil alih milik Allah?

Lebih lagi Bang A’ad menekankan ciri orang yang siap menikah antaranya adalah yang telah mampu menghidupi diri sendiri. Sedangkan pasangan kita? dia akan membawa rejekinya sendiri yang dulu Allah titipkan ke rekening walinya, urusan kita hanyalah tanggung jawab, ikhtiar total, dan doa. Sedangkan rejeki, itu seluruhnya urusan Allah🙂 Allah maha kaya kan

Tapi itulah, boleh jadi jodoh itu tak jauh dari kita. Ia hadir di samping, tapi tak tampak. Ia berkali kali berlalu persis di depan mata, tapi kita tampik. Allah tak pernah kikir menawarkan jodoh bagi hambaNya, tapi hambaNya terlalu sombong menerima uluran tanganNya. Allah tawarkan banyak pilihan, tapi kita kokoh dengan selera. Jodoh itu hadir di pelupuk mata, tapi mata kita justru menerawang jauh #Bang A’ad

***Bandung, 20 Sept ’15


Tulis komentar mu, kawan :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s