Renungan: Takdir

@nakindonesia

Kenapa Saya Yang Disalahkan Jika Tuhan Sudah Tahu Apa Yang Akan Saya Lakukan? (Tentang Takdir)

Berikut ini adalah potongan diskusi tentang “takdir” oleh Nouman Ali Khan dan Brother Eddie dalam acara The Deen Show.

Pertanyaan:

Saya kesulitan memahami konsep takdir dalam Islam. Jika Tuhan sudah menakdirkan siapa yang akan menghuni surga atau neraka, kenapa saya harus repot-repot berusaha?

Jawaban: 

Ada sebuah analogi sederhana untuk memahami hal ini. Guruku menjelaskan hal ini kepadaku karena dulu aku punya pertanyaan yang sama. Bayangkan aku akan mengadakan pesta. Aku membuat dua daftar tamu, siapa saja yang akan aku undang. DAFTAR A dan DAFTAR B. DAFTAR A adalah daftar rahasia orang-orang yang akan aku undang, tak ada yang tahu siapa yang ada dalam daftar ini, hanya aku yang tahu. DAFTAR B terbuka untuk umum. Siapa saja bisa masuk dalam DAFTAR B asalkan mereka bisa menjalankan syarat-syarat yang kuberikan.

Kau, misalnya, ingin datang ke pestaku. Kau punya dua pilihan. “Mungkin aku ada dalam DAFTAR A atau mungkin aku harus berusaha masuk ke dalam DAFTAR B. Jika kau berkata, “Yaaa, aku mungkin sudah ada dalam DAFTAR A, tak perlu repot-repot, bersusah payah masuk ke DAFTAR B dengan segala persyaratannya,” kau tahu itu membuktikan apa? Itu membuktikan bahwa kau tak terlalu ingin datang ke pestaku. Tapi jika kau berkata “Mungkin aku ada dalam DAFTAR A atau mungkin tidak, tapi aku ingin sekali datang ke pesta ini. Apa yang harus kulakukan? Aku akan berusaha sekuat tenaga mengerjakan sebaik-baiknya syarat-syarat yang diberikan untuk masuk dalam DAFTAR B.”

Seperti itulah sebenarnya takdir bekerja. Allah memutuskan siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka, ada sebuah DAFTAR RAHASIA. Tapi, ada juga sebuah DAFTAR TERBUKA. Lakukan ini, ini dan ini, kau akan masuk DAFTAR TERBUKA. Luar biasanya, setelah kau masuk dalam DAFTAR B, setelah semua jerih payahmu, kau menyadari bahwa namamu juga ada dalam DAFTAR A. Semua orang yang terpilih dalam DAFTAR B, namanya sudah ada dalam DAFTAR A, dan semua orang yang tidak bersusah payah untuk masuk dalam DAFTAR B, namanya juga tak ada dalam DAFTAR A.

Artinya, Allah secara misterius memandu sebagian orang, tapi orang-orang itu adalah mereka yang memang sudah bersusah payah sejak awal untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya. Allah secara misterius memutuskan sebagian orang tak layak mendapat petunjuk, tapi tahu tidak, mereka memang orang-orang yang sejak awal tak berbuat apapun untuk mendapat petunjuk Allah. Kedua hal tersebut, dalam filosofi disebut “KEHENDAK TUHAN” dan “USAHA MANUSIA.” Di dalam Islam, keduanya berpadu. Dan ada satu kalimat dalam Al Quran, yang menjelaskan perpaduan ini, di surat Al Fatihah, ayat “IYYAKA NASTA”IN.” (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) Kata “nasta’in” dalam bahasa Arab sangat penting. Ada beragam cara kita meminta pertolongan. Akan kuberikan analogi dari kalimat ini.

“Ban mobilku kempes, tapi aku duduk-duduk saja di dalam mobil, mendengarkan radio. Lalu kau lewat dan aku berkata, “Sob, bisa tolong gantikan ban mobilku? Akan kubukakan bagasinya.” Lalu aku duduk-duduk saja di mobil selagi kau mengganti ban mobilku. Itu meminta bantuan, tapi itu cara yang cukup konyol dalam meminta bantuan.

Sekarang bayangkan banku kempes, aku lalu keluar dari mobil, kukeluarkan dongkrak, kucoba dongkrak sendiri, tapi aku tak cukup kuat, lalu kau lewat dan aku berkata, “Hei, Danny, sepertinya badanmu cukup besar, bisakah kau membantuku?” Aku berusaha lebih dulu, lalu aku meminta bantuanmu. Itulah yang disebut “nasta’in.” Aku sudah berusaha sekuat tenaga, setelah itu aku meminta bantuanmu.

Apa yang kita pelajari dari itu? Satu-satunya saat kita berhak meminta pertolongan Allah adalah setelah kita melakukan apa lebih dulu? Berusaha lebih dulu. Jika kita tak berusaha, kita tak berhak memohon pertolongan Allah. Itu yang selalu Allah lakukan. Para sahabat bertempur dalam Perang Badr. Para malaikat tiba sesudahnya. Para malaikat tak ada di sana sebelum peperangan terjadi. Para sahabat tak bilang kepada para malaikat, “Bro, kami sudah bertempur sejak jam 3, dari mana saja kalian?” Tidak, tidak, tidak. Kau harus berusaha lebih dulu, lalu pertolongan datang. Apa yang terjadi pada Ibrahim Alaihissalam? Dia dilemparkan ke dalam api lebih dulu, lalu apinya menjadi dingin. Usaha manusia lebih dulu, pertolongan Allah setelahnya. Tapi kedua hal itu adalah satu-kesatuan dan itu pada dasarnya penjelasan sederhana dari “Takdir.” Setelah kau berusaha sekuat tenaga, Alllah berkehendak memberimu petunjuk.

-Ery-


Tulis komentar mu, kawan :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s