Ini yang terakhir…

Pertama kali saya terhentak karena harapan yang tidak sama dengan yang dipikirkannya, sensasi aneh sebuah sengatan yang mengalir sampai ujung-ujung jari tangan untuk pertama kalinya saya alami. Sangat menyakitkan bak terkena aliran listrik😦. Rasa apa itu? Dan pertama kalinya saya bersandar pada seorang lelaki selain bapak, perasaan aneh untuk pertama kalinya juga saya alami. Sebuah perasaan tenang, nyaman, dan damai luar biasa, yang membuat saya tertidur nyenyak bak diberi obat penenang dosis tinggi. Apa namanya ini?

Begini toh rasanya mencintai. Fiuh, merepotkan. Dan sangat menghabiskan waktu dan energi🙂 Untunglah, semasa saya berseragam sekolah dulu tidak pernah mengalaminya. Kebayang nilai-nilai yang drop dan melow menghiasi keseharian. Ah, sayang sekali rasanya jika energi dan waktu sebesar itu dihabiskan selama masa produktif seorang remaja labil🙂

Saya juga lambat laun mulai mengenal dikotomi hati. Ternyata, ia bekerja beda dengan akal. Akal dayanya terbatas, sedangkan hati bisa merasakan banyak hal. Kadang ia merindu, namun enggan bertemu. Kadang kesal, tapi kasihan. Kadang sayang tapi marah disaat bersamaan. Mencintai, sekaligus membenci. Hal sederhana ternyata seakan hal besar yang bisa menghancurkan perasaan dan hari seseorang jika dilakukan oleh yang dicintai. Dan hal sepele juga bisa membuat seseorang melupakan kesedihan seumur hidupnya jika dilakukan oleh yang dicintai. Saya mulai mengerti kelebayan lagu-lagu bertema lope-lope🙂

Sejak awal, aku tahu hanya kamu yang bisa menghancurkan perasaanku. Tapi aku selalu seolah rela membiarkanmu melakukannya—berulang-ulang kali. Sementara aku selalu bersedia menjadi pelupa, memaafkan semua kesalahan-kesalahanmu, betapapun kau akan melakukannya lagi. Dan lagi. (Fahd Djibran)

Bertemu, lalu berpisah, bertemu lagi dan kembali berpisah. Diam-diam seringkali saya protes di dalam hati padaNya. Tapi, mungkin itu caraNya untuk mengajarkan saya untuk mengecap manis tanpa melupakan Sang Pemilik cinta itu sendiri ya? Ah, Tapi bukankah Allah telah berfirman bahwa sebagian besar kekhawatiran adalah sia-sia?😦. Dan maafkan saya sekali lagi wahai jiwa, kehadiran saya ataupun kamu dihati masing masing jadikanlah sebagai sebuah ujian, ujian untuk mendapatkan yang terbaik pada akhirnya. PemberianNya … InsyaAllah🙂

Yups, setelah ini, ini, ini, dan ini .. ini yang terakhir ya, doakan saya kuat, karena kebaikan itu tidak murah kan? …dan balasannya pun tak akan sedikit, insyaAllah🙂

***Mataram, Sep 10th 2013


6 thoughts on “Ini yang terakhir…

Tulis komentar mu, kawan :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s