Dear, you

merit“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”

-Darwis Tere Liye-

Teteuuup yah ujung ujungnya mah jodooh😀

*jadi udah mau nikah ya, Mil?*
Ya mau lah. I’m normal. This is so natural since i’m at dewasa muda stage😛, and my development task is LOVE. Meskipun hal ini bukan menjadi prioritas untuk saat ini, gak apa kan mempersiapkan dari sekarang?😉 Semudah itukah? memutuskan untuk menikah saja sepertinya bukan perkara sehari dua hari deh. Separuh agama boooo🙂

Selama ini komitmen untuk menikah itu abstrak sekali untuk saya. Saya tidak tau kita butuh komitmen dalam menjalin hubungan. Tapi aplikasi dalam berumah tangga itu loh, gak kebayang bentuknya seperti apa🙂. Komitmen untuk mau bersama dengan pasangan, mengarungi bahtera kehidupan apapun yang terjadi. Karena, komitmen itulah yang bisa membuat suatu hubungan bertahan, membuat seseorang menyikapi kekurangan pasangan dengan bijak. Toh diri juga gak sempurna, gak berhak rasanya menuntut kesempurnaan yang rasanya tak mungkin juga dimiliki manusia. Menikah kan bukan untuk mencari pasangan yang sempurna, tapi belajar untuk bisa mencintai pasangan dengan sempurna “etciehh”😛

For me, iman [Islam] is number one. Bukan yang hafal surat sekian juz dan jago ceramah, bukan. Tapi laki-laki yang cenderung kepada kebaikan [hanif] dan bersemangat serta menyemangati keluarganya untuk mendekati Sang Pencipta, bagi saya itu syarat mutlak dan utama. Karena berkeluarga bukan hanya tanggung jawab pribadi dengan Yang Maha Kuasa. Suami bertanggungjawab atas istri. Orangtua bertanggung jawab atas anak-anaknya. Dan agama [Islam], saya yakini akan menjaga sebuah keluarga untuk menjalankan perannya masing-masing, menggiring kita kepada kebaikan. That’s why, I [we] need iman to live my life bersemangat mengingat Allah dan bersemangat menafkahi keluarganya dengan harta yang halal [pekerja keras], it’s enough😉

Ya Allah, semoga pekerjaan [calon] suami saya nantinya adalah salah satu jalan untuk lebih mengingat dan mengenal-Mu, Aamiin. Ngeri juga ya kalau dapat kerja yang tidak mendukung untuk total dalam beribadah [misalnya kerja kita membuat shalatnya ngareet banget]😦. Takutnya penghasilan jadi kurang berkah gitu. Wallahualam bishawab

Allah, jadikan setiap harap agar tak berlebihan,
agar setiap rasa selalu dalam kadarnya,
agar tiap cita tetap terbingkai dalam niatnya

***Sincerely yours [the woman who can’t be move] 


32 thoughts on “Dear, you

  1. Pingback: ala comel-comel «
  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Mila…

    Menikah bukan perkara yang seharusnya dipandang mudah. Jika hati sudah suka, maka nikahnya disegera tanpa memikirkan ciri-ciri yang dikehendaki Islam. Memang benar seperti kriteria yang dimahukan Mila, IMAN dan “beragama” seharusnya menjadi pilihan untuk menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Bunda doakan, “mr. charming”-nya akan segera muncul untuk merealisasikan sunnah Nabi dalam kehidupan di dunia dan bisa meramaikan ummah yang soleh dan solehah. Aamiin.😀

    Salam manis dari bunda di Sarikei, Sarawak.😀

  3. semoga dapet yang terbaik ya mil..

    kalau aku syaratnya harus 3. pertama agamanya harus sama dan bener. kedua sayang sama keluarga. dan yang ketiga harus ada pekerjaan yang mendukung untuk kelansungan hidup kami dan keluarga kelak. salah satu gak punya dicoret deh.😀

Tulis komentar mu, kawan :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s