Me VS mbah DUKUN

Bulan ini target persalinan oleh tenaga kesehatan di desa yang saya ampu sangat jauh dari harapan, bagaimana tidak dari belasan jumlah ibu yang bersalin setengahnya memilih melahirkan di rumah dengan bantuan dukun, multifaktor memang tapi harus saya akui kepercayaan masyarakat untuk hal hal seperti ini masih sangat kental, capeek rasanya menjelaskan pada masyarakat untuk sedikit saja perduli pada kesehatannya, setidaknya memilih bersalin di fasilitas kesehatan… iya kalau yang menolong adalah dukun terlatih tak jarang Puskesmas saya menerima rujukan pasien yang sebelumnya sudah diobok-obok si mbah dukun, si mbah tidak mampu menangani kegawatan yang dijumpainya alhasil kami kerap menerima pasien syok, masih ada sisa plasenta hingga hampir kehabisan darah😦, jika sudah begini pasti Bidan yang disalahkan dianggap tidak becus menangani masalah, saya juga seorang manusia biasa tidak bisa mengontrol satu persatu ibu hamil yang sebegitu banyaknya, mengawasi 24 jam seperti seorang satpam dan jika sudah waktunya melahirkan menggiringnya ke fasilitas kesehatan… andai semuanya kooperatif, tapi …😦

Ah … inilah resiko bekerja di masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti kesehatan, masyarakat di pedalaman Lombok yang jauh dari keramaian kota, kini saya mengerti mengapa NTB selalu berada di urutan teratas untuk masalah kesehatan, penyumbang terbanyak kematian ibu dan bayi😦, tapi harus optimis ini adalah tantangan besar yang berbeda sekali dengan di kota besar yang mungkin sangat sulit menemukan satu saja masyarakat yang melahirkan di dukun.

me vs mbah
me vs mbah dukun, hihihi

Saat sibuk sibuknya awal bulan malah tidak fit, sudah tiga hari ini Flu melanda😦 virus yang saya pikir ngefans bgd sama badan saya, selalu mencari celah dimana imun tubuh saya menurun, yups… klo sudah kecapean karena beberapa malam begadang bisa dipastikan Flu meyerang, tenggorokan radang kemudian perlahan temperatur badan saya meningkat, batuk pilek dan hidung tersumbat. Keadaan ini membuat saya semakin drop belum lagi harus ngebut mengerjakan laporan bulanan yang seabreg itu, jika sudah begini beberapa biji parasetamol dan CTM sedikit membantu lah …

Entahlah akhir akhir ini badan saya rentan sekali sakit, banyak pikiran kali Mil? haa … engga lah, mikirin apa coba … tapi harus saya akui pola hidup sehat saya sangat rendah sekali [masa bisanya cuma kasi penyuluhan hidup sehat ke orang orang malah gag bisa mempraktekkan😳] saya tenaga kesehatan tapi kurang peduli pada kesehatan, macam mana nih … saya hanya mengandalkan aktifitas sehari hari untuk memproduksi keringat tanpa meluangkan waktu khusus untuk berolahraga, makan tidak teratur bahkan cenderung banyak ngemil, konsumsi air putih yang sangattttt kurang. Alhasil semakin sering sakit tapi dalam beberapa bulan saja berat badan saja malah bertambah, duh makin ndutlah saya😦

Jika sakit kita baru merasakan nikmat sekali yang namanya sehat, so mulai detik ini saya berjanji untuk lebih menjaga kesehatan, mencintai tubuh lebih dari apapun, yuuk mari😛


41 thoughts on “Me VS mbah DUKUN

  1. sabar sist, itulah prjuangan’a. pst suatu saat nnti mnuahkan hasil. ksh pnjlasan’a jg k dukun’a, siapa tau mau ngerti.🙂

  2. mungkin pengaruh cuaca juga kali ya mbak mil. saya juga belakangan tiap malem selalu pusing dan mual. bawaan bayi mungkin.😆
    gpp mbak, makin berat rintangannya, makin besar pahalanya. Amin Amin…

  3. Saya sedikut bisa memaklumi ternyata susah juga ya jadi bu bidan, tantangannya sangat berat. bidan vs mbah dukun? saya dukung bu bidan…:mrgreen:
    *stay healthy you there…

  4. wkwkwkw….pasie yannya di obok obok dukun, aku suka itu….

    memang yang namanya udah jadi tradisi dan mendarah daging itu sulit untuk di rubah, contohnya ya itu, melahirkan di dukun… saya doain deh dukunnya kalo melahirkan di rumah sakit…. hueehhehehe

  5. saran :
    kalau dari rumah ke puskesmas, biasa bermotor, maka ganti saja dengan sepeda. kalau memungkinkan berjalan kaki saja. pengganti waktu olahraga.
    semoga sehat selalu

  6. Yah, begitulah. Kejadian seperti itu kerap terjadi di Indonesia. Banyak masyarakat yang masih berpegang teguh dengan adat kebiasaan setempat.
    Semangat ya, Mil.🙂

  7. disitu jarang air mineral apa mba?
    tak kirimi 8 galon untuk 1 tahun cukup gak?🙂

    aku kira mbah dukun mau untuk jampi-jampi?😆
    ya begitulah keadaan masyarakat di pedesaan mba, selain terbentur pada biaya, kadang memandang kalau Dukun Bayi lebih lihai dalam menangani kelahiran (kepercayaan dari dulu, dari nenek moyang).🙂 Padahal sekarang pergi ke Puskesmaspun kalau untuk keluarga kurang mampu, pasti ada subsidi ya mba?

    kon kesabarannya ditambah lagi mba, supaya gak pusing dan emosi. ^_*
    tetap jaga kesehantan dan semoga Flu lekas pergi.😆

    1. wah wah air bersih si banyak Idah, cuma minumnya yang males🙂

      hehehe, begitulah Idah … yang di permasalahkan klo mbah Dukunnya ga bersih dan cenderung semena mena😦

      amiin, doakan selalu ya Idah😛

  8. Karena tak bisa dipungkiri, sebelum ilmu medis ada, Shamanic telah ada lebih dulu dan jadi Kearifan Lokal beberapa masyrarakt yang masih meyakininya…

  9. Mungkin karena lokasi yg jauh atau karena kebiasaan sehingga tidak sedikt masyarakat yg ada di pelosok lebih memilih dukun ketimbang bidan. Untuk ngantisipasi kondisi di atas dan keterbatasan bidan, kira-kira kalo dikolaborasikan antara dukun dgn bidan bisa gak ya mbak?. Tinggal nanti si bidan melakukan pembinaan dan pelatihan kepada para dukun agar mereka juga melakukan pekerjaannya dgn sehat dan aman…

    1. Akses juga merupaka faktor yang berpengaruh tapi saat ini Sudah ada kemitraan bidan-dukun tapi saking banyaknya dukun yang belum terlatih jadi butuh tenaga ekstra nih🙂

  10. jika masalah kesehatan/pekerjaan yang kamu lakukan dimasyarakat belum dimengerti terutama buat mbah dukun tadi,,, jangan putus asa n semangat harus jalan terus …

  11. lombok….hmm bidah ptt(ato apalah namanya). DUkun vs ibu bidan. eh..kalo melahirkan pake dukun beranak musyrik ga ya? hmm

Tulis komentar mu, kawan :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s